Book Creator

Modul MK Komunikasi Organisasi

by M. Shohibul Aziz

Cover

Loading...
Loading...
MODUL PEMBELAJARAN
KOMUNIKASI ORGANISASI
Loading...
Loading...
By M.SHOHIBUL AZIZ
Pendahuluan
Revolusi 4.0 dilihat fenomena adanya disruptive innovation. Keadaan ini
dilihat dari perubahan arus globalisasi dan perkembangan teknologi di seluruh dunia. Fenomena ini juga memberikan dampak terhadap proses komunikasi yang terjadi antara individu yang satu dengan yang lainnya dalam berinteraksi. Begitu juga proses komunikasi di suatu organisasi mengalami perubahan yang signifikan dalam mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Oleh sebab itu, komunikasi memiliki peran sangat penting baik di pemerintahan, lingkungan masyarakat, ekonomi, pendidikan, dan di manapun manusia berada. (Suranto, 2018).
Komunikasi dapat dikatakan merupakan nafas dalam eksistensi suatu organisasi, di mana suatu organisasi tidak akan mampu berjalan tanpa adanya komunikasi. Hal ini menjadi latar belakang munculnya studi tentang komunikasi organisasi. Dalam buku ini akan diulas dengan komprehensif bagaimana pelaku organisasi yang memiliki tugas masing-masing saling berkaitan satu dengan yang lain dalam suatu sistem memerlukan komunikasi yang baik agar kinerja dalam organisasi tersebut berjalan optimal.

Modul ini akan membahas konsep dasar dan teori komunikasi secara lengkap yang dimulai dari teori klasik yang merupakan dasar berpikir dalam komunikasi organisasi, hingga kemunculan teori-teori transisional.
Pengertian komunikasi dalam Organisasi
Organisasi merupakan rangkaian kerja sama dari sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini seperti yang disampaikan dalam setiap organisasi terdapat dua orang atau lebih yang harus bekerja sama agar tujuan yang telah ditetapkan bersama dapat diwujudkan. Sedangkan Kata komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” atau “common” dalam bahasa Inggris yang berarti sama, communico, commonicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata latin lainnya yang mirip. Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (1964: 527) mendefinisikan komunikasi, sebagai berikut: “Communication: transmission of information, ideas, emotions, skills, etc. by the uses of symbol …” (Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi). Hovland, Jenis dan Kelley seperti yang dikemukakan oleh Forsdale (1981) adalah ahli sosiologi Amerika, mengatakan bahwa, ”communication is the process by which an individual transmits stimuli (usually verbal) to modify the behavior of other individuals”. Dengan kata-kata lain komunikasi adalah proses individu mengirim stimulus yang biasanya dalam bentuk verbal
Fungsi Komunikasi
Sendjaja (1994: 40) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi mencakup empat fungsi, di antaranya: (1) fungsi informatif; (2) fungsi regulatif; (3) fungsi persuasif; dan (4) fungsi integratif.
1. Fungsi informatif. Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemprosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk
membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Selain itu, karyawan (bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti, dan
sebagainya.
2. Fungsi regulatif. Fungsi ini berkaitan dengan peraturanperaturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif. Pertama, berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Juga memberi perintah atau intruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. Kedua, berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya,
bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
3. Fungsi persuasif. Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.
4. Fungsi integratif.
Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut. Pertama, saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi.
Kedua, saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.
Hambatan dalam Komunikasi
Comic Panel 1
Hambatan Individu. a. Difference in Status (Perbedaan Status) b. The credibility of the Source (Kredibiltas Sumber) Sumber komunikasi dapat sangat mempengaruhi apakah penerima pesan menerima atau menolak pesan tersebut. c. Perceptual Biases (Kesalahan Persepsi)

Hambatan Organisasi. a. Information Overload (Informasi Berlebihan); b. Time Pressures (Waktu Tekanan); c. Organizational Climate (Iklim Organisasi); d. Technology (Teknologi)
PrevNext