Book Creator

Paksi Pak Marga Liwa Lampung Barat

by Ir. Syamsul A Siradz, M. Sc., Ph. D. (Suntan Indrajaya Simbangan Tuala Paksi di Marga I)

Pages 2 and 3 of 29

Sejarah
Negeri LIWA
Lampung Barat
Indonesia
Loading...
Penulis:

Ir. Syamsul A Siradz, M. Sc., Ph. D.
( Suntan Indrajaya Simbangan Tuala Paksi di Marga I )
Loading...
Asal-Usul
PAKSI PAK MARGA LIWA
Balik Bukit, di Lampung Barat
Loading...
Loading...
Loading...
Pendahuluan
Warahan dalam Bahasa Lampung bermakna hikayat, cerita, atau sejarah asal usul suatu kaum atau suatu peristiwa di masa lampau disampaikan secara lisan. Dalam bentuk tertulis, warahan disebut “tambo.”
Huruf “r” dalam Bahasa Lampung diucapkan seperti “gh atau kh”, misal menyebut nama:  Ratu Junjungan Marga, Raja Pemuka Adat, Radin Kebilang; menyebut nama tempat: atar kudan, Sukamarga;  radu rua bingi mak ratong (penulisan yang benar bukan khadu khua bingi mak khatong).  
Warahan sering disampaikan orang-orang tua, misalnya kakek atau nenek kepada cucunya di malam hari sambil  cucu memijat sang kakek atau nenek. Isi warahan berupa kisah zaman dahulu berisi nasihat agar anak atau cucu bersikap dan berbuat baik dan takzim kepada orang tua, agar menjadi anak soleh taat beragama, atau dapat juga berupa cerita jenaka seperti kancil dan buaya sehingga sang cucu bergembira dan bersemangat mendengarkan warahan dan tidak terasa hampir satu atau dua jam memijat sang nenek. 
Kita akan menyingkap asal usul penduduk masyarakat adat marga Liwa, Lampung Barat, bersumber dari tambo dan warah yang diterima penyimbang adat Buay Tuala marga Liwa. Buay Tuala adalah bagian dari masyarakat adat saibatin, yang keberadaanya di dataran tinggi Bukit Sepulang, Balik Bukit Lampung Barat, diperkirakan sejak abad ke 14 M.
Wilayah ini dihuni oleh masyarakat adat dari keturunan leluhur tertentu yang terikat dalam satu kekerabatan. 
Masyarakat adat marga Liwa dapat dipilahkan ke dalam 3 suku, yaitu Suku Doh, Suku Tengah dan Suku Unggak yang tersebar pada 18 pekon dalam wilayah Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat. Sebagian lagi bermukim di Bandar Lampung, Semaka, Liba, Kebun Tebu, Metro dan Waya.
Kecamatan Balik Bukit di utara berbatasan dengan Kecamatan Sukau dan Batubrak, di selatan dengan Kecamatan Way Krui, di timur dengan Kecamatan Batubrak, dan di barat berbatasan dengan Kecamatan Sukau.

Kelompok masyarakat adat marga Liwa, dipimpin empat penyimbang adat yang dikenal sebagai PAKSI PAK MARGA LIWA:  
1. Raja Persi (Suku Doh), Pekon Serbaya, Sukanegeri;  
2. Raja Tuala (Suku Tengah), Pekon Gedung;  
3. Raja di Ginting (Suku Tengah), Pekon Tengah;
4. Raja di Pulau Langgar (Suku Unggak), Pekon Negeri Agung.
Diuraikan di tambo, bahwa keempat raja di atas memiliki wilayah kekuasaan masing-masing. Raja Tuala misalnya, daerah kekuasaannya meliputi wilayah dari  Way Sewani terus ke Teba Nitak, terus ke Telpung Kanduk sampai Tutung Sebatang, terus ke Siring Telaga, terus ke Halian Rubok, terus ke Way Pesasa, terus ke Pemuka Kanduk Hijau, terus ke Rulah Titi Pandan terus ke Ham Tebiu, terus ke Way Pancor Naga, terus ke arah Bukit Sepulang. Itulah daerah kekuasaan Raja Tuala.

Konon, wilayah marga Liwa dimaksud di atas, termasuk bagian dari kerajaan Skala Brak kuno yang awalnya ditempati Suku Tumi yang menganut Hindu Bairawa (animisme). Diriwayatkan,  Suku Tumi terusik akibat kedatangan empat orang Putera Raja Pagaruyung Maulana Umpu Ngegalang Paksi, yang tiba di Sekala Brak untuk menyebarkan agama Islam. Kekalahan Buay Tumi awal berdirinya Kepaksian Sekala Brak atau Paksi Pak Sekala Brak yang berasaskan Islam.
Pengaruh Islam di Pagaruyung

Islam di Pagaruyung berkembang pada abad ke-16, pada awal abad tersebut hanya satu dari tiga raja Minangkabau yang sudah Islam. Perkembangan Islam di Pagaruyung melalui para musafir dan guru agama yg singgah, atau datang dari Aceh dan Malaka.
Ulama Aceh, Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), memiliki murid bernama Syaikh Burhanuddin Ulakan yang dianggap penyebar Islam pertama di Pagaruyung. Kerajaan Pagaruyung berubah menjadi kesultanan Islam pada abad ke-17, dan raja Islam pertama dalam tambo adat Minangkabau bernama Sultan Alif, dinobatkan sebagai Sultan Pagaruyung, tahun 1560.

Jadi, patut diduga bahwa empat putera raja Pagaruyung Maulana Umpu Ngegalang Paksi tiba di Skala Brak membawa Islam, terjadi paling cepat pertengahan abad ke-16 atau mungkin abad ke-17. 
Pagaruyung pra-Islam dan asal-usul Paksi Pak Marga Liwa
Dalam tambo Buay Tuala marga Liwa, puyang Paksi Pak marga Liwa adalah tiga bersaudara hulubalang kerajaan ”Pagaruyung” yaitu Naga Berisang, Rakin Sakti, dan Rupa Rakin, yang melarikan diri akibat kekalahan Pagaruyung pada perang melawan Majapahit. Pagaruyung sebagai nama sebuah kerajaan Melayu tidak dapat diketahui secara pasti. Bila ditelusuri, pelarian puyang Nagaberisang bersaudara berkaitan erat dengan kerajaan Singhasari dan Majapahit. Tersebutlah, tahun 1275 Prabu Kertanegara dari Singhasari mengirim ekspedisi Pamalayu untuk menaklukan Bhumi Melayu, dipimpin Laksamana Kebo Anabrang. Setelah Kerajaan Melayu takluk, raja Melayu mengirim dua puterinya yaitu Dara Petak dan Dara Jingga untuk dinikahkan dengan Prabu Kertanegara sebagai tanda persahabatan. Tapi, pada saat itu terjadi pemberontakan oleh Jayakatwang, namun berhasil dipadamkan dengan bantuan pasukan Mongol. Raden Wijaya adalah menantu Prabu Kartanegara yang kemudian mendirikan kerajaan Majapahit. 
PrevNext