Book Creator

MEDIA_RPP3

by Fatma Khoirunisa

Cover

Loading...
Loading...
HUTAN WANODYA
Loading...
Kisah Melawan Ketamakan
Loading...
Fatma Khoirunisa
Sejak Zaman dahulu, Wanodya adalah sebuah hutan jati yang subur. Banyak sekali rusa dan ayam hutan yang cantik tinggal di sana. Para penduduk di sekitarnya mencari kayu bakar dari ranting-ranting kering yang berjatuhan. Mereka hidup cukup makmur karena hasil sawah cukup melimpah.
Hingga suatu hari, datanglah Pak Tirto, seorang pengusaha kayu dari kota. Pak Tirto membujuk para warga untuk menebang pohon dari hutan. Semula warga menolak. Tetapi, seorang warga yang bernama Adhi bersedia karena Pak Tirto berani membayar mahal untuk satu batang pohon yang ditebang.
Hingga suatu hari, datanglah Pak Tirto, seorang pengusaha kayu dari kota. Pak Tirto membujuk para warga untuk menebang pohon dari hutan. Semula warga menolak. Tetapi, seorang warga yang bernama Adhi bersedia karena Pak Tirto berani membayar mahal untuk satu batang pohon yang ditebang.
Warga pun senang mendengarnya. Akhirnya mereka beramai-ramai menebang hutan, menangkap rusa dan ayam hutan. Dalam waktu singkat, Hutan Wanodya menjadi gundul dan tak lagi asri. Tak ada lagi rusa berkeliaran dan suara burung betet yang merdu.

Karena hasil sudah tidak ada lagi. Pak Tirto pun meninggalkan daerah itu, kembali ke kota dengan keuntungan yang melimpah.
Melihat Pak Adhi mendadak kaya dari hasil menebang pohon di hutan, warga pun akhirnya tergoda. Mereka mendatangi Pak Tirto untuk ikut menebang hutan.

"Kalian boleh menebang pohon sebanyak mungkin. Aku akan membayarnya mahal," kata Pak Tirto.

"Sungguh, Pak? Mulai besok kami akan menebang pohon untuk Bapak.

"Bukan itu saja. Kalau kalian menangkap rusa dan burung betet, saya juga akan membelinya dengan harga mahal," lanjut Pak Tirto.
Warga pun senang mendengarnya. Akhirnya mereka beramai-ramai menebang hutan, menangkap rusa dan ayam hutan. Dalam waktu singkat, Hutan Wanodya menjadi gundul dan tak lagi asri. Tak ada lagi rusa berkeliaran dan suara burung betet yang merdu.

Karena hasil sudah tidak ada lagi. Pak Tirto pun meninggalkan daerah itu, kembali ke kota dengan keuntungan yang melimpah.
Beberapa bulan kemudian, harta para penduduk dari hasil menebang pohon yang dijual ke Pak Tirto pun segera habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Ketika musim kemarau tiba, sumur-sumur penduduk menjadi kering, dan udara sangat panas. Padahal sejak zaman dahulu, kampung mereka tidak pernah kekeringan.
Sawah-sawah pun gagal panen karena tidak cukup air. Ranting-ranting untuk kayu bakar pun sangat sulit dicari. Hidup mereka menjadi susah. Hutan Wandoya yang mereka banggakan kini menjadi gundul. Mereka sangat menyesali keserakahan yang mereka lakukan.
PrevNext