Book Creator

Bukan Jodoh

by Rhai Raksi Pertiwi

Cover

Loading...
BUKAN
Loading...
JODOH
Loading...
By Rhai Raksi Pertiwi
BUKAN JODOH
Detik – detik menuju pengumuman ujian universitas akan dibuka, jantung semakin berdetak tidak karuan membuat diri ini tidak tenang. Menit demi menit, detik demi detik tidak henti – hentinya diri ini merapalkan doa agar diberikan ke lapangan dada.

Terlihat di layar handphone menunjukan sudah bisa memasukan data yang harus di input, saat akan mengklik-

Suara alarm sangat terdengar nyaring di telingaku, hingga membuat tubuh ini sedikit tersentak kaget. Sekarang jam menunjukkan pukul 11.00 WIB menandakan diri ini untuk segera bergegas mempersiapkan diri. Hari ini aku akan melaksanakan ujian masuk ke perguruan tinggi. Untuk pelaksanaannya berlokasi di Bandung, di salah satu kampus perguruan tinggi negeri.

Sebelum berangkat ke lokasi ujian, aku tidak lupa untuk meminta doa kepada ibu agar semuanya dipermudah dan diperlancar.

“Bu, berangkat dulu. Doakan ya, bu.”

“Iya, pasti ibu doakan. Jangan lupa untuk berdoa sebelum pelaksanaan ujiannya ya.”
Detik – detik menuju pengumuman ujian universitas akan dibuka, jantung semakin berdetak tidak karuan membuat diri ini tidak tenang. Menit demi menit, detik demi detik tidak henti – hentinya diri ini merapalkan doa agar diberikan ke lapangan dada.

Terlihat di layar handphone menunjukan sudah bisa memasukan data yang harus di input, saat akan mengklik-

Suara alarm sangat terdengar nyaring di telingaku, hingga membuat tubuh ini sedikit tersentak kaget. Sekarang jam menunjukkan pukul 11.00 WIB menandakan diri ini untuk segera bergegas mempersiapkan diri. Hari ini aku akan melaksanakan ujian masuk ke perguruan tinggi. Untuk pelaksanaannya berlokasi di Bandung, di salah satu kampus perguruan tinggi negeri.

Sebelum berangkat ke lokasi ujian, aku tidak lupa untuk meminta doa kepada ibu agar semuanya dipermudah dan diperlancar.

“Bu, berangkat dulu. Doakan ya, bu.”

“Iya, pasti ibu doakan. Jangan lupa untuk berdoa sebelum pelaksanaan ujiannya ya.”
Comic Panel 1
Saat berada di ruangan ujian yang lumayan agak dingin, aku tidak henti – hentinya merapalkan doa agar diberi kemudahan serta kelancaran. Awalnya berjalan lancar, tetapi pada saat pertengahan menjawab soal, diri ini tiba – tiba lemas tidak karuan keringat dingin bercucuran sampai – sampai untuk menatap layar monitor pun rasanya tidak sanggup. Ternyata baru ingat, tadi tidak sempat memikirkan untuk makan terlebih dahulu. Dipikiranku hanya memikirkan ujian tersebut tanpa memikirkan diri sendiri.

Dengan sisa – sisa tenaga yang ada, diri ini berhasil mengisi semua soal yang ada. Pada saat keluar ruangan ujian itu rasanya terasa sedikit tenang dengan badan sedikit lemas juga. Ku rogoh tas karena teringat tadi ada sebuah biskuit pemberian dari kakak – kakak yang meminta tolong agar mengisi sebuah formulir dan untuk sebagai tanda terima kasihnya diberi sebuah biskuit yang lumayan bisa mengganjal perutku untuk sementara waktu.
           
Disaat pulang menuju rumah, aku menikmati sejenak suasana sore kota Bandung dengan udaranya yang sejuk membuat siapa saja betah untuk berlama – lama. Tak terasa begitu cepat menuju rumah, saat datang aku disambut hangat oleh ibu dan keluarga dari kakak ibu sebut saja keluarga uwa. Yang dimana aku dan ibu menetap sementara di rumah uwa.
Saat berada di ruangan ujian yang lumayan agak dingin, aku tidak henti – hentinya merapalkan doa agar diberi kemudahan serta kelancaran. Awalnya berjalan lancar, tetapi pada saat pertengahan menjawab soal, diri ini tiba – tiba lemas tidak karuan keringat dingin bercucuran sampai – sampai untuk menatap layar monitor pun rasanya tidak sanggup. Ternyata baru ingat, tadi tidak sempat memikirkan untuk makan terlebih dahulu. Dipikiranku hanya memikirkan ujian tersebut tanpa memikirkan diri sendiri.

Dengan sisa – sisa tenaga yang ada, diri ini berhasil mengisi semua soal yang ada. Pada saat keluar ruangan ujian itu rasanya terasa sedikit tenang dengan badan sedikit lemas juga. Ku rogoh tas karena teringat tadi ada sebuah biskuit pemberian dari kakak – kakak yang meminta tolong agar mengisi sebuah formulir dan untuk sebagai tanda terima kasihnya diberi sebuah biskuit yang lumayan bisa mengganjal perutku untuk sementara waktu.
           
Disaat pulang menuju rumah, aku menikmati sejenak suasana sore kota Bandung dengan udaranya yang sejuk membuat siapa saja betah untuk berlama – lama. Tak terasa begitu cepat menuju rumah, saat datang aku disambut hangat oleh ibu dan keluarga dari kakak ibu sebut saja keluarga uwa. Yang dimana aku dan ibu menetap sementara di rumah uwa.
Pada saat itu aku terharu rasanya ingin menangis, tetapi aku mencoba untuk menahannya agar cairan bening dari mataku ini tidak mengalir di pipiku.

“Gimana tadi? lancar?” disaat mendengar pertanyaan dari ibu rasanya aku ingin menceritakan semua yang tadi aku rasakan.

“Hmm alhamdulillah lancar, tapi pas tadi badan tiba – tiba lemes.” Wajah melasku sulit untuk ditutupi sekarang dihadapan ibu.

“Ayo makan dulu biar gak lemes lagi. Sekarang tinggal kuatkan lagi doanya.”

“Tapi kalau semisal gak lolos, gimana?”

“Allah pasti sudah menyediakan rencana lebih baik, nak. Jadi apapun nanti hasilnya, kamu udah berusaha dengan baik.”

Di saat mendengar kalimat – kalimat penenang dari ibu setelah menceritakan kejadian tadi dan segala kegundahan di hati rasanya diri ini sedikit tenang untuk sementara waktu.

Selesai melaksakan ujian, aku dan ibu tidak berlama – lama di Bandung besok harinya pulang kembali ke kota angin yaitu kota Majalengka yang dimana kota kelahiranku.
Jarak waktu dari pelaksanaan ujian sampai pengumuman cukup lama, banyak sekali ekspektasi yang harus ku jaga. Semua orang menaruh ekspektasi begitu banyaknya sampai – sampai memenuhi seluruh pikiran. Jujur saja pada saat aku belajar untuk ujian pun, ingin menyerah saja rasanya. Sesusah itu untuk masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan sejak kecil.
           
Diri ini selalu dihantui gundah gulana ketika menuju pengumuman ujian masuk ke perguruan tinggi semakin dekat, hati rasanya tidak tenang dan selalu resah. Tapi ibu, ayah dan teteh selalu berusaha untuk menenangkan segala keresahan yang ada, menyakinkan untuk selalu ber-positif thinking.
           
Tinggal menghitung hari, aku selalu menyakinkan “apapun itu hasilnya kamu sudah berusaha menjadi yang terbaik”, memang tidak mudah tapi aku berusaha untuk dilapangkan hati menerima segala hasil yang ada.
           
Hari demi hari, tidak henti – hentinya diri ini bertanya kepada ibu.

“Ibu, bagaimana jika tidak lolos?” Entah sudah berapa puluh kali aku menanyakan hal yang sama seperti ini kepada ibu.

Ibu sedikit menghela napas ketika mendengar perkataanku tadi, terlihat dari raut wajahnya yang berusaha tenang agar aku pun ikut tenang.
PrevNext