Book Creator

3.1.a.10 Aksi Nyata Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

by Yuni Dwi P

Cover

Loading...
Loading...
3.1.a.10 Aksi Nyata - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Loading...
Loading...
Yuni Dwi Pristiwanti
CGP Angkatan 2 Kota Bandar Lampung
UPT SMPN 10 Bandar Lampung
Peristiwa (Fact)
Latar Belakang
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap suatu masalah yang dihadapi dan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran.
Seorang pemimpin pembelajaran harus memperhatikan banyak hal sebelum membuat sebuah keputusan, karena sebuah keputusan yang diambil akan memberikan dampak pada proses pembelajaran.

Pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pembelajaran harus memperhatikan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip berpikir pengambilan keputusan, 3 nilai dasar pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan keputusan dengan disesuaikan persolan yang ada.
Dalam pengambilan keputusan juga diperlukan komitmen serta kerjasama semua unsur yang ada di lingkungan sekolah, agar apapun bentuk permasalahan yang terjadi di sekolah bisa diselesaikan dengan baik dan bertanggung jawab.

Salah satu kasus yang terjadi adalah saat proses pembelajaran IPA secara daring di kelas yang saya ampu/ajar terdapat beberapa siswa yang tidak mengerjakan tugas walaupun untuk pengumpulan tugas sudah disepakati bersama waktu pengumpulannya.

Alasan saya melakukan aksi nyata agar semua siswa memiliki karakter disiplin dan bertanggungjawab dengan menyelesaikan dan mengumpulkan semua tugas-tugasnya.
Tindakan/Aksi Nyata yang saya lakukan
Saya sebagai guru IPA yang juga sebagai wali kelas menjalin komunikasi dan berdiskusi dengan wali kelas lainnya yang juga berperan sebagai guru mata pelajaran, guru BK yang juga sebagai wali kelas, beberapa murid dan orang tua murid.
Hasil Aksi Nyata
Berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa siswa, wali kelas, guru mata pelajaran dan guru bimbingan konseling, kendala yang dihadapi siswa tidak mengerjakan dan mengumpulkan tugas :
1. Bosan belajar secara daring karena banyaknya tugas yang diberikan oleh
guru-guru mata pelajaran
2. Merasa kesulitan ketika menjawab soal sehingga murid tidak
mengerjakan tugas
3. Gawai (HP) rusak dan untuk mengganti atau memperbaiki HP tidak
memiliki dana karena faktor ekonomi
4. Tidak memiliki gawai (HP) sendiri, sehingga HP yang digunakan
bergantian dengan orang tua untuk bekerja atau bergantian dengan
kakak/adiknya belajar secara daring
5. Kehabisan kuota
6. Tidak didampingi orangtua ketika belajar di rumah karena orang tua
bekerja
Menurut saya persoalan yang terjadi adalah paradigma dilema etika yaitu individu lawan masyarakat (Individual vs community), jangka pendek lawan jangka panjang (long vs term) dan rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Benar jika siswa tidak mengerjakan dan tidak mengumpulkan tugas karena merasa kesulitan dalam menjawab soal, bosan dengan belajar daring karena banyaknya tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran, tidak memiliki gawai (HP), memiliki gawai (HP) namun rusak, dan tidak memiliki biaya untuk memperbaiki ataupun mengganti yang baru karena faktor ekonomi, kehabisan kuota, serta tidak didampingi orangtua sehingga kesulitan dalam belajar tetapi benar juga jika siswa tidak mengerjakan tugas dan tidak mengumpulkan tugas akan tertinggal dengan teman-teman lainnya, untuk jangka panjangnya tugas yang tidak segera dikerjakan akan menumpuk sehingga akan mengalami kesulitan dalam mengikuti materi berikutnya. Saya guru sebagai pemimpin pembelajaran harus memperlakukan secara adil kepada semua siswa agar semua siswa mengerjakan dan mengumpulkan tugas, namun di satu sisi saya juga harus bijak mencari tahu alasan mengapa ada beberapa siswa yang tidak mengerjakan dan mengumpulkan tugas.
PrevNext