Book Creator

ASAL USUL BAAYUN

by M.AMRANI,S.Pd

Pages 2 and 3 of 29

KHAS KALIMANTAN
BAAYUN ANAK BULAN MAULID
NABI MUHAMMAD SAW.
DI SUSUN
OLEH
M.AMRANI,S.Pd
Loading...
KATA PENGANTAR
Loading...
Alhamdulillah segala puji bagi Allah Swt. Tuhan sekalian Alam. Nikmat-Nya begitu deras mengalir menghantarkan manusia pada hilir kesadaran bahwa kasih sayang Dia limpahkan bersifat universal menembus belukar sekat suku, agama,ras antara golongan juga adil kepada merika yang patuh maupun ingkar

Sebagai bahan atau hasil yang saya terima dari pembelajaran bapa ibu semua yang mengajari kami melalui Zoom,dan juga teman-teman semua yang ada dikelas Zoom 156 saya atas nama pribadi sangat mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga. Kerna mana berkat belajar melalui Bemtik dareng ini kami sangat terbantu atas pembelajaran, hingga penulis dapat menulis KHas Kalimantan Selatan .Mohon Ma'af jika ada kekurangan dalam kata maupun dalam Tulisan kerna ulun(saya) dalam Belajar.
Loading...
Barito kuala, 8 Desembir 2022
A.n



M.Amrani,S.Pd
Loading...
DAFTAR ISI
Loading...
1. COVER.....................................................1
2.KATA PENGANTAR................................ .2
3.DAFTAR ISI.............................................. 3
4.CERITA HAS KALIMANTAN.....................4
5.TRIDISI BAAYUN...................................... 7
6.KESIPULAN................................................9
7. VIDIO BAAYUN........................................10
8.PENUTUP..................................................12
Asal Usul

Baayun Maulud terdiri dari dua kata, yaitu baayun dan maulud. Kata Baayun berarti melakukan aktivitas ayunan/buaian. Aktivitas mengayun bayi biasanya dilakukan oleh seseorang untuk menidurkan anaknya. Dengan diayun-ayun, seorang bayi akan merasa nyaman sehingga ia akan dapat tidur dengan lelap. Sedangkan kata maulud (dari bahasa Arab) merupakan ungkapan masyarakat Arab untuk peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, kata Baayun Maulud mempunyai arti sebuah kegiatan mengayun anak (bayi) sebagai ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sang pembawa rahmat bagi sekalian alam.
Namun, dalam pelaksanaannya sekarang mengalami perubahan oleh masyarakat Banua Halat, perubahan tersebut terjadi karena disesuaikan dengan keadaan. Diantaranya adalah salah satu perlengkapan Baayun seperti piduduk tidak lagi digunakan dalam proses Baayun Maulud dan digantikan dengan uang seharga dengan isi piduduk, yang mana uang tersebut nantinya disumbangkan kepada para fakir miskin. Perubahan ini terjadi berdasarkan kesepatan bersama, mengingat acara Baayun Maulud sekarang mencapai ribuan peserta, Sehingga untuk menghindari kerusakan isi piduduk, serta mubazir karena berserakannya piduduk peserta. Maka, digantikan hanya berupa uang yang mana peserta Baayun melakukan akad kepada panitia pada saat pendaftaran
Baayun Maulud merupakan aktivitas komunikasi yang khas dan berulang oleh Masyarakat Banua Halat yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Kegiatan tersebut merupakan bentuk komunikasi tradisional dengan menggunakan media tradisional yang sudah digunakan masyarakat Banua Halat zaman dahulu. Media tradisional yang digunakan tersebut memiliki makna yang berhubungan dengan kehidupan yang kemudian disepakati oleh masyarakat Banua Halat dan diajarkan secara turun-temurun. Makna tersebut dapat dilihat dari simbol-simbol yang ada dalam perlengakapan Baayun, misalnya seperti hiasan janur yang berbentuk payung yang memiliki makna sebagai simbol perlindungan dalam menjalani hidup.
Baayun Maulud yang dilaksanakan oleh masyarakat Banua Halat merupakan bagian dari acara Maulid (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW), masyarakat setempat mengikuti tata cara yang sudah dianut sejak dulu yang diajarkan oleh orang bahari/tedahulu.
Babulik3
Namun, dalam pelaksanaannya sekarang mengalami perubahan oleh masyarakat Banua Halat, perubahan tersebut terjadi karena disesuaikan dengan keadaan. Diantaranya adalah salah satu perlengkapan Baayun seperti piduduk tidak lagi digunakan dalam proses Baayun Maulud dan digantikan dengan uang seharga dengan isi piduduk, yang mana uang tersebut nantinya disumbangkan kepada para fakir miskin. Perubahan ini terjadi berdasarkan kesepatan bersama, mengingat acara Baayun Maulud sekarang mencapai ribuan peserta, Sehingga untuk menghindari kerusakan isi piduduk, serta mubazir karena berserakannya piduduk peserta. Maka, digantikan hanya berupa uang yang mana peserta Baayun melakukan akad kepada panitia pada saat pendaftaran
Tetapi has baayun masih ada didairah tertentu . merika tetap mengadakan baayun apa bila bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. tepatnya 12 Rabiul Awal Yaitu Didairah-Dairah Kalemantan Selatan
Tradisi baayun ini mendapat Penghargaan Yaitu
Gawian pas maayun anak
Sebelumnya Baayun Maulud diperuntukkan untuk bayi berumur 40 hari atau balita, seiring perkembangan zaman Baayun Maulud dilakukan oleh berbagai kalangan usia yang mana masing-masing dari mereka memiliki nazar atau hajad. Walaupun sekarang ini pelaksanakaannya terdapat beberapa pergeseran makna, Namun budaya Baayun Maulud pada masyarakat Banua Halat tetap dilaksanakan dengan baik dan secara rutin setiap bulan Mulud. Karena Baayun Maulud merupakan budaya yang mengandung unsur kearifan lokal yang berisi tentang kebaikan dalam menjalani berbagai ragam kehidupan, yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu dan telah berhasil diturunkan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Banua Halat.
B. Kesimpulan
aayun Maulud Pada Masyarakat Banua Halat yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal merupakan aktivitas komunikasi masyarakat sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan kesehatan yang diberikan, serta sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. 2. Baayun Maulud Pada Masyarakat Banua Halat merupakan proses komunikasi tradisional dengan menggunakan media tradisional sebagai proses penyampaian pesan. Dituangkan ke dalam simbol-simbol pada perlengkapan Baayun Maulud. Misalnya, seperti simbol ayunan yang disebut dengan Pikasih Beranak yang memiliki makna, anak yang diayun diharapkan akan penuh dengan limpahan kasih. Terdiri dari 3 lapis kain memiliki makna tiga tingkatan memahami agama yaitu tarekat, makrifat dan hakekat menunjukkan tiga tingkatan sufisme. 3. Baayun Maulud Pada Masyarakat Banua Halat terdapat proses yang mengandung komunikasi transendental, yaitu komunikasi yang melibatkan antara Tuhan dan masyarakat Banua Halat. Misalnya, terdapat pada prosesi pembacaan asyarakal. Pada prosesi ini digunakan untuk memanjatkan do’a berharap Tuhan Yang Maha Esa akan memudahkan serta melapangkan apa yang menjadi nazar. 4. Baayun Maulud Pada Masyarakat Banua Halat merupakan budaya yang mengandung unsur kearifan lokal yang tetap dilaksanakan hingga era modern sekarang. Memiliki makna kebaikan dalam menjalani berbagai ragam kehidupan, Selain itu Baayun Maulud juga digunakan sebagai media untuk mempererat tali silaturrahmi. 5. Prosesi Baayun Maulud pada masyarakat Banua Halat sekarang ini terdapat beberapa pergeseran makna, Diantaranya seperti; Baayun Maulud sekarang ini tidak lagi dilakukan oleh balita atau bayi saja melainkan berbagai kalangan terutama yang memiliki nazar, Pada zaman sekarang kegiatan betapung tawar pada prosesi Baayun Maulud tidak lagi digunakan, digantikan dengan kegiatan pemberian doa oleh tokoh agama, Larangan penggunaan hiasan janur yang berbentuk kebendaan oleh salah satu tokoh agama yang ada di Banua Halat yaitu Bapak haji Ismail, Kemudian, perubahan pada perlengkapan seperti piduduk dan 64 sesaji sekarang ini tidak lagi digunakan, melainkan digantikan berupa sejumlah uang seharga isi piduduk dan sesaji tersebut
PrevNext