Book Creator

Antologi Cerpen (Secercah Kehidupan Manusia))

by Luluk Hesti Dewi Rose

Cover

Comic Panel 1
Loading...
ANTOLOGI CERITA PENDEK (CERPEN)
Loading...
Buah Karya :
Luluk Hesti Dewi Rose
Loading...
Cerita Segala Rasa

Berawal dari canda jenaka tentang tulis menulis, menggugah dan memberikan inspirasi untuk mengumpulkan kembali coret-coretan yang telah berceceran di tempat yg tidak jelas, terpinggirkan dan tersisihkan dengan nasib yang tidak jelas, merana dalam kesendirian dan kesepian (karena jarang disentuh lagi) tetapi, bangga. Akhirnya, terkumpullah naskah-naskah lama bahkan terkesan kuno yang berisi aneka curahan pikiran (kadang-kadang tidak linear) dan ungkapan perasan gundah tidak karuan, yang kemudian dititip dalam antologi cerpen yang saya buat ini. Kebanyakan cerpen tersebut telah pernah diterbitkan dalam bentuk buletin, jurnal, atau buku. Ada juga rujukan perkuliahan, yang mungkin bermanfaat bagi orang tertentu tapi bisa jadi bahan cemoohan bagi orang lain. Oleh karena itu  adalah jauh dari harapan tulisan-tulisan ini diminati oleh orang lain, apalagi diunduh secara tidak semestinya. Tulisan-tulisan ini juga jauh dari bermutu, apalagi kalau dilihat dari ukuran ilmiah, serta memang lebih berfungsi sebagai koleksi pribadi untuk ditoleh dan dikenang kembali -saat-saat masa lampau- bernostalgia untuk memperoleh inspirasi baru.
Tak lupa saya ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada orangtua saya yang telah membimbing dan mengajarkan saya banyak hal, terutama dalam bidang menulis karya-karya fiksi yang sekarang allhamdullillah penggarapannya sudah selesai. Antologi cerpen ini tidak akan jadi dan tampil seperti ini tanpa budi baik serta sentuhan artistik jari-jari halus yang sabar, tekun tanpa jemu, penuh ceria dam tentunya akan dikenang, selama antologi cerpen ini hidup dalam sanubari antara punulis dan pembaca. Thanks a lot for everything and may God always bless you . . . for ever and ever ….


Oktober 2021
Penulis
Daftar isi

Tetesan Air Mata Biru…………………………………………………………………….. 3
Secarik Pesan Terakhir Bunda…………………………………………………………….  17
Hilang Bukan Kepalang…………………………………………………………………..   19
Sesal dan Sial……………………………………………………………………………...  24
Pelarian Sia-Sia……………………………………………………………………………  27
Mister “X”………………………………………………………………………………… 31
Sepotong Tiramissu untuk Kakek…………………………………………………………  33
Persembahan Terindah untuk Kakek……………………………………………………...  43
Sebingkai Kehidupan Anak Manusia……………………………………………………..  44
Naskah Drama…………………………………………………………………………….  50
Daftar isi

Tetesan Air Mata Biru…………………………………………………………………….. 3
Secarik Pesan Terakhir Bunda…………………………………………………………….  17
Hilang Bukan Kepalang…………………………………………………………………..   19
Sesal dan Sial……………………………………………………………………………...  24
Pelarian Sia-Sia……………………………………………………………………………  27
Mister “X”………………………………………………………………………………… 31
Sepotong Tiramissu untuk Kakek…………………………………………………………  33
Persembahan Terindah untuk Kakek……………………………………………………...  43
Sebingkai Kehidupan Anak Manusia……………………………………………………..  44
Naskah Drama…………………………………………………………………………….  50
 
Karena kita tak bisa memilih:
bagaimana dan kapan kita akan mati,
Karenanya kita hanya bisa memutuskan:
Bagaimana kita sebaiknya melanjutkan sisa hidup kita dengan lebih baik dari hari kemarin...


“Bunda…”begitulah panggilan sayangku kepada seorang wanita sholehah yang telah mengandungku selama sembilan bulan lamanya. Wanita yang mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan aku. Wanita yang rela tidak tidur demi menjagaku disetiap kesunyian malam. Wanita yang akan terbangun karena tangisku ketika lapar, haus, buang air kecil, maupun buang air besar. Wanita yang setiap saat selalu mengkhawatirkanku ketika aku pulang sekolah sampai malam hari tidak kunjung pulang karena lupa memberitahu jikalau ada belajar bersama di rumah teman. Wanita yang memperjuangkan hidup matinya hanya untukku. Wanita yang membesarkanku. Wanita yang setia mendengarkan segala keluh kesahku. Wanita yang rela bahunya senantiasa tersandar dalam setiap kesedihanku. Wanita yang seorang diri mendidikku.
Seorang diri,, yaa memang seorang diri...
Ayahku telah berpulang ke Rahmatullah ketika aku masih kecil. Dan bunda tak pernah berfikir untuk mencari pengganti ayah.
Namun, ketika aku sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak laki-laki, bunda telah menyusul ayah pulang dan pergi untuk selama-lamanya ke Rahmatullah.
Setelah masuk 40 harinya bunda aku mengingat pesan-pesan terakhir bunda Sebelum bunda berpulang ke Rahmatullah….
“Putriku sayangg,,bunda tidak meminta apa-apa kepadamu nak,,bunda hanya ingin putriku senantiasa menjadi seorang istri yang sholehah, senantiasa mendengarkan perintah suaminya, dan yang paling penting senantiasa menjadi seorang ibu yang baik, sholehah, dan bijaksana.. Bundasebenarnya telah lama ingin sekali menimang seorang cucu yang lucu, tampan, cantik seperti bundanya dan ayahnya dan bunda berdo’a agar nantinya akan menjadi seorang putra dan putri yang sholeh dan sholehah serta menjadi kebanggan keluarga. AAaaammmiiinnnn,,,,”
                                                                                                                 
Pesan itulah yang terakhir diucapkan kepadaku. Dan senantiasa akan aku emban dalam benakku serta akan aku jadikan pedoman dalam setiap langkah dan pelita ku…


“Bunda…”begitulah panggilan sayangku kepada seorang wanita sholehah yang telah mengandungku selama sembilan bulan lamanya. Wanita yang mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan aku. Wanita yang rela tidak tidur demi menjagaku disetiap kesunyian malam. Wanita yang akan terbangun karena tangisku ketika lapar, haus, buang air kecil, maupun buang air besar. Wanita yang setiap saat selalu mengkhawatirkanku ketika aku pulang sekolah sampai malam hari tidak kunjung pulang karena lupa memberitahu jikalau ada belajar bersama di rumah teman. Wanita yang memperjuangkan hidup matinya hanya untukku. Wanita yang membesarkanku. Wanita yang setia mendengarkan segala keluh kesahku. Wanita yang rela bahunya senantiasa tersandar dalam setiap kesedihanku. Wanita yang seorang diri mendidikku.
Seorang diri,, yaa memang seorang diri...
Ayahku telah berpulang ke Rahmatullah ketika aku masih kecil. Dan bunda tak pernah berfikir untuk mencari pengganti ayah.
Namun, ketika aku sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak laki-laki, bunda telah menyusul ayah pulang dan pergi untuk selama-lamanya ke Rahmatullah.
Setelah masuk 40 harinya bunda aku mengingat pesan-pesan terakhir bunda Sebelum bunda berpulang ke Rahmatullah….
“Putriku sayangg,,bunda tidak meminta apa-apa kepadamu nak,,bunda hanya ingin putriku senantiasa menjadi seorang istri yang sholehah, senantiasa mendengarkan perintah suaminya, dan yang paling penting senantiasa menjadi seorang ibu yang baik, sholehah, dan bijaksana.. Bundasebenarnya telah lama ingin sekali menimang seorang cucu yang lucu, tampan, cantik seperti bundanya dan ayahnya dan bunda berdo’a agar nantinya akan menjadi seorang putra dan putri yang sholeh dan sholehah serta menjadi kebanggan keluarga. AAaaammmiiinnnn,,,,”
                                                                                                                 
Pesan itulah yang terakhir diucapkan kepadaku. Dan senantiasa akan aku emban dalam benakku serta akan aku jadikan pedoman dalam setiap langkah dan pelita ku…
Ohhhh Bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada didalam hatiku……
Namaku Aisyahtur Rahma Sidqiyah, aku seorang anak semata wayang yang baru saja lulus sarjana di salah satu perguruan tinggi berbasis islam di kota Malang. Semenjak ayahku meninggal aku hanya tinggal berdua saja bersama bunda.
“Rumahku,,Istanaku..” Disinilah Di rumah peninggalan ayah, aku bersama bundakutinggal sekarang tempat berteduh dari hujan dan panas terik matahari telah menyimpan berjuta kenangan terindah bersama orang-orang yang aku sayangi. Ayahku telah meninggal semenjak aku masih kecil.
           “Saat ini hidup bunda hanya untuk putri bunda satu-satunya yang cantik ini”
Kalimat tersebut yang selalu diucapkan bunda ketika ku tanya mengenai ayah. Kalimat itu yang membuatku bertahan dengan keadaan ini, keadaan yang hanya mempunyai satu orangtua. Dan kalimat itu pula yang membuatku bangga mempunyai orangtua seperti bunda. Bunda pahlawanku. Beliau rela membanting tulang untuk menjadikanku seorang anak yang berpendidikan. Apapun akan bunda lakukan dan kerjakan asalkan halal.
“Bunda, Ais sangat menyayangi bunda.” Ucapku sembari memeluk dan mengecup pipi bundaku yang mulai menciut bagaikan buah apel yang tak habis dimakan.
           Tingtong,,,tingtong,,,tingtong,,,
“Assalamu’alaikum” Suara itu terdengar di balik pintu.
“Wa’alaikum Salam…Bunda ke depan dulu ya Ais"” Jawab bunda dari dapur.
"Iya bunda" Jawabku dengan senyum manja.
           Bunda berjalan keluar meninggalkan dapur.
“Bu Risa….nak Zaky. Mari masuk, masuk” Ucap bunda setelah membuka pintu dan melihat seseorang di balik pintu.
            “Apa kabar bu Risa?” Tanya bunda sesaat setelah mempersilahkan duduk kedua tamu tersebut.
“Alhamdulillah baik bu. Bu Rahmah sendiri bagaimana kabarnya?"
“Alhamdulillah baik juga bu. Lama nih kita tidak bertemu. Ibu sudah lupa ya sama saya?”
“Massya’Allah.. ndak mungkinlah bu, hanya saja rumah saya kan agak jauh dari sini, yang mengantar itu ndak ada. Ini saja kebetulan Zaky ada perlu di daerah sini. Lalu saya minta ikut saja, sekalian silaturahmi ke rumah ibu.”
           Aku yang berada di dapur segera membuatkan minuman untuk kedua tamu bunda. 
Setelah selesai membuatnya, segera ku antar kedepan. Saat aku menyuguhkan minuman di atas meja, segera kucium tangan sahabat bunda ini.
“Ini Aisyah putri ibu yang dulu masih kecil?!? Masya’allah..sekarang sudah besar, cantik, dan terlihat sholihah seperti bundanya yaa..”
Aku hanya tersenyum mendengarnya, dan kembali ke dapur.
Setelah lama berbicara banyak hal, sahabat bunda berpamitan pulang.
"yasudah bu saya dan anak saya pamit pulang dulu ya bu Rahmah."
"Iya bu, hati-hati." Jawab bunda dengan ramah sembari bersallaman dan bercipika-cipiki bersama bu Risa.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
           Bunda kembali ke dapur untuk memasak setelah menutup pintu.
“Aisyah” Panggil bunda dengan nada lirih.
“Dalem bunda” aku menyahuti
“Bu Risa senang melihatmu nak, dan menginginkan Aisyah menjadi menantunya.” seketika akupun terkejut mendengarnya.
“Laki-laki yang baru saja datang ke rumah bersama bu Risa namanya Zaky, nak. Dia Sarjana teknik, dan agamanya bagus . Saat ini Zaky mengajar di salah satu SMA Negeri di kota Malang.” Sambung bunda kepadaku.
“Bunda, Aisyah kan belum mengenalnya. Mungkin Zaky juga belum mengenal Aisyah.”
“Zaky sudah mengenal Aisyah katanya. Ia tadi yang duduk di sebelahnya Bu Risa. Fikirkan dulu ya nak, minta petunjuk sama Allah.
“InsyaAllah bund.” Jawabku dan langsung meninggalkan dapur menuju kamar.
           Ketika malam tiba setelah aku sholat Istikharah, aku tidur dan ternyata di dalam tidurku kedatangan tamu yang memberiku petunjuk. Petunjuk itu memperlihatkan aku kepada seorang laki-laki tampan, wajahnya terpancarkan cahaya yang berkilauan dan senyumnya yang sangat merekah. Lelaki itu muncul dengan memakai jubah panjang putih, bersorban putih, dan di dadanya tertuliskan nama yaitu “Zaky”.
           Subhanallah keesokkan harinya setelah semalam aku sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah S.W.T.aku terbangun dan terkejut sepintas di benakku masih terbayang-bayang wajah laki-laki yang ada didalam mimpiku semalam,,segera aku menghampiri bundaku yang ternyata sedang di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk kami.
“Bund, Ais mau menerima lamaran itu. Tapi izinkan Ais untuk berta’aruf dulu dengan Zaky yaa ibu..”.     
PrevNext